
"BERPAKAIAN TAPI HAKEKATNYA TAK BERPAKAIAN"
Assalaamu’alaikum Warohmatullah Wabarokaatuhu
Alhamdulillaah, washolaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah. Amma ba’du
Teman-temanku yang dirahmati Allah. Apa kabar semuanya? Mudah-mudahan dalam keadaan baik dan sehat semuanya. Aamiin
Pada kesempatan ini, Bulletin FORDA MAN GODEAN menyampaikan sebuah ulasan singkat yang berjudul “Berpakaian Tapi Hakekatnya Tak Berpakaian”. Yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiin
Teman-teman yang dirahmati oleh Allah. Barokallaahu fiy kum
Pernahkah kita mendengar sebuah hadits shahih tentang 2 kelompok penghuni neraka yang belum pernah dilihat oleh Rasulullah sebelumnya? Sudah apa belum hayoo? Okedeh, saya bacakan ya, tapi jangan ada yang ngobrol sendiri lho, supaya teman-teman mendapatkan kebaikan. Aamiin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Hadits diatas adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam kitab Shahihnya. Sehingga, derajat hadits itu adalah “Shahih” yang wajib kita yakini keabsahannya.
Teman-teman yang dirahmati Allah. Baarokallaahu fiy kum
Seorang ‘Ulama, yakni Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun
‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.”(Jilbab Al Mar’ah Muslimah, halaman 125-126).
Sebelum masuk ke pembahasan inti, mari kita bernostalgia terlebih dahulu.Dulu, pada zaman Nabi Muhammad –Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam- kaum wanita begitu antusias dalam menutupi dirinya dengan hijab yang syar’i ketika keluar rumah. Mereka begitu memperhatikan hijabnya, sampai-sampai salah seorang diantara mereka bertanya kepada Rasul dalam sebuah hadits yang membahas masalah isbal. Wanita itu berkata kepada
Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apabila batas pakaian bagi wanita itu juga sama diatas mata kaki, berarti nanti kaki-kaki kami akan terlihat”. Maka Rasulullah –Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam- menjawab, “tambahkan sehasata, dan jangan lebih dari itu”.
(Hadits Shahih)
Tuh kan mba, para wanita pada zaman Rasul aja khawatir apabila aurat mereka tersingkap atau terlihat oleh orang lain, masa kita tidak? Dan 1 pertanyaan lagi, kenapa ya di zaman ini banyaaaaakkk sekali wanita yang sukanya memamerkan auratnya? Teman-teman Ada yg tau tidak? Okedeh, saya kasih tau saja ya? Di zaman ini banyak sekali wanita yang suka memamerkan auratnya serta memamerkan bentuk tubuhnya disebabkan karena hilangnya rasa “Malu” pada diri-diri mereka. Rasa Apa yang hilang? Rasa malu. Bahkan tidak
Tanggung-tanggung, mereka justru malah merasa bangga karena telah menunjukan kepada orang lain bahwa dirinya memiliki kulit yang putih misalkan, atau tubuh yang begitulah, pasti teman-teman faham. Yang seakan-akan lebih baik dari orang lain.
Haduh-haduh, serasa kulit terbungkus daging. Yang seharusnya di dalam, tapi malah diluar. Yang seharusnya memiliki rasa malu, tapi malah bangga. Laa hawlaa walaa quwwata illa billah.
Padahal nihh yee teman-teman, Malu merupakan suatu perkara yang tidak bisa dianggap remeh oleh kita. Ingatlah, bahwasannya malu adalah sebagian dari iman. Sebagaimana dalam sabdanya, “Malu itu sebagian dari iman” (Muttafaqun ‘Alayh). Sehingga, apabila kita masih memiliki rasa malu, hendaknya kita jaga baik-baik, agar rasa malu itu tidak dicabut oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Karena apabila rasa malu itu dicabut dari diri kita, niscaya kita akan lebih mudah dalam berbuat maksiat. Na’udzubillaah
Maka dari itu duhai kaum Adam dan Hawa. Baarokallaahu fiy kum
Marilah kita mulai berbenah diri, terkhusus dalam adab berpakaian. Janganlah alasan nge-tren atau fashion kita utamakan dibanding dengan syari’at yang telah datang terlebih dahulu. Mudah-mudahan, Allah melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran dan hidayah. aamiin
Demikian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf.
Wassalaamu’alaikum Warohmatullaah Wabarokaatuhu
Salam FORDA!!! (Rizqi Ashidqi –XII Agama-)
0 komentar:
Posting Komentar