Jumat, 08 Mei 2015

BULLETIN FORDA EDISI 004 : "ADAB TERHADAP MAKANAN"

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuhu
Alhamdulillah, tsumma sholaatu wassalaamu ‘ala Rosulillah. Amma ba’du..  teman-teman yang dirahmati Allah,
   Alhamdulillah. Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberi kesehatan oleh Allah, diberi kemudahan dalam urusan-urusan kita, dimudahkan karunia rezeki bagi kita, dan dimudahkan pula dalam menuntut ilmu agama. Allaahummaa aamiin

   Dalam kesempatan yang mulia ini, Buletin FORDA MAN Godean akan memberikan sajian singkat yang berjudul “Adab Terhadap Makanan”. Mungkin teman-teman ada yang bertanya, “makanan kan benda mati, dia tidak bisa mendengar, dia juga tidak punyahati, kok kita harus memiliki adab terhadap makanan?”. Teman-temanku yang dirahmati Allah... Makanan memanglah tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, tidak dapat pula untuk marah. Namun, yang perlu kita sadari adalah, makanan itu memiliki khasiat yang berharga bagi diri kita. Dan ternyata, sebuah makanan juga dapat menjadi penghantar seorang manusia untuk beribadah kepada Allah, ketika makanan itu mengandung berkah. Akan tetapi, ketika makanan itu hilang keberkahannya, maka makanan itu hanya sekedar menjadi pengganjal lapar sahaja.

Teman-teman yang dimuliakan Allah Baarokallaahu Fiy kum.

   Ada beberapa adab terhadap makanan yang seharusnya kita mengetahuinya. Yaitu :

1.    Membaca “Basmalah” di akhir makan dan “Hamdalah” di akhir makan
   Kita mungkin pernah melihat teman kita, atau siapa saja, ketika ada sebuah makanan atau minuman dihadapannya, ia langsung melahapnya tanpa membaca basmalah terlebih dahulu. Pernah lihat belum yang seperti itu? Padahal, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam bersabda yang artinya : “Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaklah ia memuji Allah Ta’ala. jika ia lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Dengan menyebut nama Allah di awal dan di akhir” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi, Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -Rahimahullah-)
Memang kebanyakan kita terkadang lalai dari hal ini. Bahkan ada pula yang menganggap sepele kalimat basmalah tadi. Duuh, tak betul ituuu.

   Perlu teman-teman ketahui ya. Apabila seseorang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makanan itu ternyata dapat dimakan oleh setan.artinya, ia makan ditemani oleh setan. Akan tetapi, apabila ia mengucapkan basmalah sebelum makan, maka setan tidak dapat memakan makannya itu. Sebagaimana dalam hadits shohih, Rasulullah bersabda :

قَاَلَ إِبْلِيْسُ : كُلُّ خَلْقَكَ بَيَّنْتَ رِزْقَهُ, فَفِيْمَ رِزْقِيْ؟ قَالَ : فِيْما لَمْ يُذْكَرْ اسْمِيْ عَلَيْهِ

Iblis berkata kepada Allah: "Setiap makhluk-Mu telah Engkau terangkan rizkinya. Mana rizkiku?" Kemudian Dia menjawab: "Pada makanan yang tidak disebut nama-Ku padanya". [Lihat ash-Shahîhah, 708].

Hii. Serem ya kalau makan ditemani oleh setan. Nanti makanannya tidak mengandung barokah...

2. Dilarangnya Mencela Makanan Yang Tidak Kita Sukai
   Nah, teman-teman pasti pernah menjumpai makanan yang tidak disukai. Pernah apa Belum? Pasti sudah pernah yaa. Wong saya saja sering e melihat makanan yang tidak saya suka. Tapii, yang jadi permasalahannya adalah, tindakan atau ucapan apa yang seharusnya kita lakukan ketika sedang memakan makanan yang kurang enak? Apakah dengan mengatakan, “ih, ora penak e” atau “ikiki opo to? Kok rasane blas ora karuan”. Apakah ucapan seperti itu yang seharusnya kita katakan? Jawabannya adalah “NO”.

Sebagai seoang muslim yang baik, hendaknya kita mencontoh akhlaq Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam ketika beliau merasa tidak suka atau tidak tertarik kepada suatu makanan. Dalam sebuah hadits yang berasal dari Sahabat Abu Huroiroh, dia berkata , “Rasulullah Tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya” (H.R. Bukhory dan Muslim)

Dalam hadits diatas, menunjukan sebuah adab yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim. Yaitu, hendaknya ia berlaku baik kepada sebuah makanan. Apabila ia menyukai makanan itu, hendaknya ia makan. Dan apabila ia meras tidak suka, maka tidak diharuskan baginya untuk memakannya. Dengan catatan, tanpa mencela makanan itu. Perlu teman-teman ketahui juga lho. Apabila kita mencela sebuah makanan, berarti kita telah bertindak kufur, yaitu tidak mensyukuri ni’mat Allah. Padahal, Allah Jalla Wa’ala telah berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Yang artinya :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim : 7)

 Ya, begitulah temanku. Apabila kita bersyukur terhadap karunia yang Allah berikan kepada kita, niscaya Allah akan menambahkan karunianya kepada kita, dan melimpahkan keberkahan padanya. Namun, apabila kita tidak mensyukurinya dan malah mencelanya, niscaya ia akan mendapatkan siksaan dari Allah dan dihilangkan keberkahan padanya. Na’udzubillah.

3. Mengucapkan hamdalah ketika selesai makan dan minum
   Nah, bagian ini juga sering dilupakan oleh sebagian kita. Benar tidak? Biasanya kalau orang habis makan, yang keluar dari lisannya bukannya kalimat “Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin” , tapi malah suara menggelegar dari perut yang menandakan bahwa perut sudah terisi oleh makanan.
   Sebenernya saya itu heran, sudah pada hafal do’a setelah makan belum siih? Sudah hafal belum? Coba ayo bareng-Bareng kita baca do’anya, 1,2, 3,

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillaahilladziiathamanaawasaqoonawaj’alnaaminalmuslimiin.Aamiin

Artinya :
“Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami memeluk agama islam”

Nah, teman-teman sudah pada hafal kan? Besok lagi kalau selesai makan jangan lupa membaca do’a ini ya? Supaya makanan yang kita makan bisa menjadi sumber tenaga yang baik, dan sebagai sarana untuk beribadah kepada  Allah. Setuju? Baiklah kalau setuju.

Teman-temanku yang dirahmati Allah, baarokallaahu fiy kum.

Maka dari itu, marilah kita mencoba untuk memiliki adab-adab yang baik terhadap makanan. Seperti yang tadi saya katakan, mungkin makanan dianggap remeh oleh sebahagian kita. Padahal, kalau kita menyadari, sebuah makanan ternyata berperan penting dalam kehidupan kita. Coba, kalau di dunia ini tidak ada makanan, bagaimana jadinya? Apakah kita masih bisa hidup?? Tentu tidak bisa. Karena secara fitroh, manusia membutuhkan sumber asupan yang dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan demikian, kita seharusnya berlaku baik terhadap sebuah makanan, yakni dengan tidak mencelanya, menjelek-jelekannya, dan juga tidak menyepelekannya. Namun, seharusnya kita mengucapkan syukur kepada Allah, atas ni’mat yang Dia berikan kepada kita, yang belum tentu orang lain juga bisa menikmati makanan yang kita rasakan.

Demikian sajian singkat dari FORDA MAN Godean yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi saya dan antum semua. Wassalaamu’alaykum Warohmatullaah Wabarokaatuhu... (Ashidqi)

0 komentar:

Posting Komentar